Pelajaran dari Koruptor untuk Mahasiswa

ADA sebuah perasaan muak dan kesal ketika mendengar kata koruptor di negeri kita ini. Betapa tidak, akibat ulahnyalah bangsa dengan kekayaan alam yang besar ini menjadi bangsa terbelakang dalam berbagai hal.

Sementara itu, dalam kaitannya dengan korupsi, ketika kita mendengar kata pemuda dan mahasiswa seperti ada sebuah harapan untuk terciptanya pemberantasan korupsi. Memang, selama ini mahasiswa telah terbukti menjadi kelompok sosial yang berperan menyadarkan seluruh pihak tentang arti penting pemberantasan korupsi.

Mereka melakukannya dengan berbagai cara yang cukup atraktif dari demonstrasi, seminar, diskusi,serta pembagian selebaran, dan upaya lain. Sebagai sebuah kelompok sosial, memang mahasiswa adalah kelompok yang efektif untuk mendorong perubahan.

Maka tak jarang kita mendengar istilah agent of change melekat padanya. Mahasiswa dengan posisi strata sosialnya pada kelas menengah menjadi posisi yang efektif untuk menjalankan perannya tersebut. Dengan posisi itu mahasiswa dapat melihat realitas sesungguhnya dari kalangan sosial di bawahnya.

Dalam waktu yang sama, dengan kapasitas intelektualnya mahasiswa memiliki akses kepada kelas sosial di atasnya seperti pemerintah dan para pejabat. Ada yang menarik ketika kita menghubungkan antara mahasiswa dan para koruptor. Salah satu hubungannya adalah bahwa para koruptor yang kita benci itu dahulunya adalah juga mahasiswa dan pemuda. Artinya mereka pernah melalui masa menyandang gelar agent of change.

Sangat mungkin di antara mereka yang saat ini menjadi koruptor dahulunya malah menjadi mahasiswa dan pemuda yang giat berkampanye antikorupsi. Namun ketika kekuasaan ada di depan matanya, segala idealisme yang dahulu pernah diteriakkan hanya menjadi semacam bunga mimpi yang hilang saat terbangun. Koruptor yang dahulunya mahasiswa, tidak bisa “mempertahankan ingatannya” bahwa korupsi adalah hal yang mesti diberantas.

Selain itu mereka juga tidak bisa menjaga kehidupan dan denyut nuraninya sehingga keputusannya selalu diambil tanpa nurani. Ketika melihat kekuasaan di depan matanya, mereka melupakan atau sengaja lupa dengan apa yang diteriakkannya dahulu. Mereka pun membunuh nuraninya yang sejak mahasiswa dahulu mereka pupuk.

Peristiwa ini bisa kita jadikan pelajaran berharga, khususnya bagi kita yang saat ini menjadi mahasiswa dan pemuda. Jangan sampai kita sama dengan para koruptor yang dahulunya mahasiswa itu. Kita sibuk meneriakkan antikorupsi saat ini, lalu ketika masa memimpin itu tiba, kita malah menyelewengkan kekuasaan itu dengan ber-KKN ria.

Inilah peran penting yang paling bisa kita lakukan sejak saat ini, yaitu mempertahankan ingatan kita tentang bahaya korupsi dan mempertahankan kehidupan nurani kita. Tanpa itu, mungkin kita akan menjadi orang yang sama seperti para koruptor tersebut suatu saat nanti.

HIDUP MAHASISWA INDONESIA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: